Asal Muasal Bubaban Dan Tarian Tigol

Asal Muasal Bubaban Dan Tarian Tigol
Sepenggal Kisah Muda Mudi Buay Tumi Yang Tercecer
Hadijaya Prabu Galihway

Dahulu kala seorang keturunan dari Sekala Brak Hindu adalah juga pendiri Dinasti Sriwijaya, dia bernama Dapunta Hyang Sri Jayanaga. Negeri dari Dinasti Sriwijaya awal ketika itu berpusat di Minanga Komering Ulu. Warahan dan Sejarah yang disusun di dalam Tambo, menyatakan bahwa masyarakat Sekala Brak tersebut merupakan etnis atau suku-bangsa Tumi (Buay Tumi). Namun dari perjalanan masa yang begitu panjang, lambat laun ketenaran nama Buay Tumi makin senyap dan nyaris tak terdengar bahkan terlupakan.
Adanya pengkotak-kotakan (peta-comply) wilayah jajahan oleh Belanda di Sumatera Bagian Selatan di masa lalu, menyebabkan nama Buay Tumi tereliminir dan tau-tau nama yang dilembagakan hingga kini adalah Komering. Konon katanya nama Komering itu mencatut nama seorang Hindi (India) pengumpul rempah-rempah yaitu mister Komring Singh yang dikenali Belanda sebagai manusia rakit yang sering dijumpai berlalu-lalang di sungai Komring hingga pedalaman, maka dinamailah sungai itu dengan nama sungai Komring atau Kumoring atau Komering. Bagian Wilayah Sumatera Selatan yang kita kenali hingga saat ini adalah Kabupaten OKU Timur dan OKU Selatan. OKU adalah singkatan dari Ogan Komering Ulu yang terletak diantara dua Provinsi yaitu Provinsi Sumatera Selatan (Palembang) dan Provinsi Lampung.

Karya sastra fiksi etnis Buay Tumi ini kami sajikan dalam rangka menyambut Dies Natalis Ke 30 UT yang mengusung tema “30 Tahun UT Melayani Bangsa” bersamaan dengan Pelantikan Pengurus IKAUT Pusat Periode 2014-2019 pada 4 September 2014 yad. Hadijaya, alumni UT mewakili komunitas Buay Tumi (Admin Grup FB OKU Komering Palembang : 5.005 anggota), kali ini menyajikan kisah adat pergaulan bujang gadis etnis Buay Tumi di Komering Palembang yang masih berlaku hingga kini. Sebuah budaya persembahan barang atau suatu benda dari seorang pemuda untuk gadis pujaannya atau yang lazim dikenal oleh bujang-gadis Komering dengan istilah “Bubaban”. Begitu pula halnya mengenai asal muasal “Tarian Tigol” yaitu suatu Tarian Perang yang digelar pada sesi pertemuan Kabayan (kedua mempelai pengantin) di Pokon Lambahan (halaman rumah) mempelai wanita.

Karya sastra fiksi tulisan Hadijaya ini, diperkenalkan kepada khalayak sebagai sebuah perbendaharaan adat budaya Buay Tumi di Komering yang belum pernah dimuat dimedia masa. Sekalipun begitu budaya “Bubaban” serta “Tarian Tigol” masih berlangsung hingga kini di bumi Komering khususnya di dusun Cempaka OKU Timur. Inilah awal mula kisahnya:
Konon di masa Buay Tumi doeloe itoe, ada tiga orang pemuda kembar dengan wajah dan perawakan yang sangat mirip sekali. Mereka masing-masing bernama Baban, Babin dan Babun. Karakter, gaya dan penampilan anak kembar yang sangat mirip itu sehingga warga Tumi cukup sulit mengenali mana yang Baban, mana yang Babin dan mana pula yang bernama Babun.

Sejak kecil mereka selalu seiya-sekata, bermain bersama bahkan kegiatan berburu hewan Menjangan di hutan atau menangkap ikan di sungai Komering dengan menggunakan Serampang juga menjadi kegemaran yang sama. Setelah beranjak dewasa (bujang) mereka mulai menyukai wanita (gadis). Mereka mendatangi dan bertamu ke rumah belasan gadis di sejumlah dusun mulai dari Minanga sampai Kayu Agung. Namun hanya ada satu gadis anggun, hidung rancut (mancung), ramah dan cantik mempesona yang membuat ketiga saudara kembar tersebut mabuk kepayang. Gadis itu bernama Mauli dia adalah seorang gadis Buay Tumi yang sedang mekar dan berdiam di dusun Cempaka.

Gadis yang putih mulus semata wayang (anak tunggal), sehat sintal dan tubuhnya terawat dengan baik, rambutnya ikal mayang terpelihara. Makan minum yang disantapnya higienis. Mauli juga rajin mandi dengan air bunga 7 rupa, sehingga badannya segar mewangi. Mauli hanya mandi di rumah, tak seperti kebanyakan teman sepermainannya yang mandi di Pangkalan Bay (area pemandian wanita) di pinggir sungai. Sehingga Mauli lebih aman dari intipan pemuda bermata liar. Oleh sebab demikian ketiga saudara kembar itu : Baban, Babin dan Babun mulai terpikat dan sama-sama ingin memiliki Mauli. Mereka berharap suatu saat dapat mempersunting Mauli sebagai isteri atau pendamping hidup cikal bakal penurun generasi.

Ketiga pemuda tersebut selalu datang bersama-sama hanya untuk bertamu ke rumah Mauli saja. Hubungan Mauli dengan ketiga pemuda kembar itu makin lama makin erat dan tanpa disadari ternyata Mauli pun menyukai mereka bertiga sekaligus. Hingga suatu hari orang tua Mauli mulai mencurigai keadaan ini dan mengantisipasi kemungkinan polyandry yang bakal terjadi. Anak gadis kesayangan keluarga Cempaka itu tak diperkenankan adat jika menikah dengan 3 pria sekaligus, maka Mauli diharuskan memilih hanya satu saja dari ketiga pemuda kembar yang paling dia sukai.

Suatu malam Ibunda si Mauli dititahkan Ayahanda untuk menanyakan pilihan hati putri mereka. “Mauli anakku ! … kini saatnya dikau tentukan satu saja dari ketiga pemuda kembar itu : Baban, Babin ataukah Babun saja sebagai calon suamimu !, … pilihlah satu nak, mana yang paling kau cintai !” kata ibunya lirih.
“Mauli bingung mak !, mereka bertiga itu sama daya tariknya, sama gantengnya, sama perangai dan sopan santunnya, … ananda tak tahu mana yang terbaik dari mereka untuk mendampingi hidupku kelak mak !” jawab Mauli dengan nada sedih sambil menutupkan wajah ke bantal.

Menyadari hal itu, ayah si Mauli lalu ikut sumbang saran dan berkata : “Bagaimana jika kita lakukan saja sayembara supaya ananda dapat menentukan mana diantara mereka yang terbaik !. Carilah ilham mulai malam ini nak, apalah kiranya macam sayembara yang akan kita buka untuk mereka bertiga itu nanti !”

Beberapa hari kemudian di saat ketiga pemuda kembar tersebut kembali berkunjung, Mauli disembunyikan keluarga di kamar. Ayah dan Ibunya secara langsung menyambut kedatangan tiga pemuda ganteng itu, mempersilahkan mereka duduk, lalu menyajikan “Bingka Taboh” yaitu penganan khas Buay Tumi berupa adonan Punti Taboh (Pisang Kepok) dan tepung beras yang dikukus lalu dipanggang hingga kering. Minumannya berupa “Way Kabung” yaitu cairan manis dari bonggol pohon aren bahan dasar pembuatan gula merah. Keluarga gadis dusun Cempaka itu sudah menyiapkan sebuah sayembara sederhana guna menyeleksi pemuda pilihan untuk anak gadis mereka yang kini mencapai masa duduk di pelaminan.

Ayah si Mauli mengawali pembicaraan dengan mengkonfirmasi terlebih dahulu maksud tujuan ketiga pemuda yang selalu ingin jumpa dengan Mauli. Setelah semuanya jelas bahwa mereka sebenarnya memiliki harapan yang sama untuk mempersunting Mauli, maka isi sayembara itupun disebutkan. Mauli mendengar semua pembicaraan dan mengintip dari celah bilik papan kamarnya dengan hati berdegup tak menentu.
Ayah si Mauli melanjutkan wejangan : “Begini nak !, sebenarnya kalian bertiga juga sama-sama disukai Mauli anakku, namun tentu saja yang akan menjadi suami Mauli hanya satu saja dari antara kalian, ini aturan adat yang harus dijunjung tinggi. Oleh karenanya kami buka sebuah sayembara untuk kalian dan hasil sayembara itu nanti biar Mauli yang akan menilainya sendiri !”.
Ketiga pemuda kembar tertunduk sambil menunggu apa yang hendak diucapkan oleh sang calon mertua perihal tema sayembara itu.
“Mauli berkeinginan agar kalian menyajikan “Cara Mengatasi Gangguan Nyamuk”. Datanglah kembali ke gubuk kami pekan depan lalu tunjukkan kepada Mauli gadisku, macam upaya apa yang paling baik menurut kalian masing-masing !” lanjut ayah Mauli seraya mempersilahkan tetamunya menyantap Bingka dan Way Kabung yang telah dihidangkan.

Setelah pamit pulang, ketiga pemuda kembar mulai berpikir serius untuk dapat menyajikan cara atau metode mengatasi gangguan nyamuk yang paling menarik, efektif, aman dan disukai Mauli. Mereka merenung dirumah sampai akhirnya masing-masing menemukan ide cemerlang.
Baban menemukan ide terbaik untuk mengatasi nyamuk yaitu memakai “Kelambu”. Mauli sebaiknya masuk Kelambu saja supaya tak digigit nyamuk, demikian pikirnya. Oleh sebab itu Baban mulai menenun kain halus lalu dijahitnya dengan tangan menjadi sebuah Kelambu berbentuk kubus dengan dimensi (p x l x t) kurang lebih : 1,5 Meter x 2 Meter x 2 Meter. Keempat sudut atap masing-masing diberi tali sepanjang 1 Meter, lalu diberinya pula aksesori berupa kain sulaman pada bibir pintu Kelambu sehingga kelambu yang dia kerjakan hampir seminggu lamanya itu terlihat unik dan menarik. Setelah selesai dikerjakan lalu Kelambu itu dia lipat dengan rapih siap untuk dipersembahkan kepada sang kekasih.

Babin menemukan ide terbaik untuk mengatasi nyamuk yaitu dengan cara melakukan “pengasapan (fumigasi)”. Nyamuk di sekitar bilik rumah Mauli akan kuusir dengan asap supaya nyamuk-nyamuk menjauh dan tak menggigit kekasih hatiku, begitu pikirnya. Maka mulailah Babin mengumpulkan Babal (rontokan buah nangka yang kecil) yang dipungutnya dari bawah pohon Belasa Kepampang (pohon Nangka hutan). Babal-babal itu dia jemur dibawah terik matahari selama hampir sepekan agar benar-benar kering dan mudah dibakar. Sebakul babal kering sudah Babin siapkan untuk dibawa kehadapan Mauli sang kekasih.
Adapun Babun menemukan ide terbaik untuk mengatasi nyamuk yaitu dengan secara rutin mengusapkan “ekstrak Hantawali (Brotowali)”. Jika Mauli rajin membasahi tubuhnya dengan cairan Hantawali yang pahit itu maka kulitnya menjadi pahit pula dan nyamuk-nyamuk tak akan sudi menempel di kulit kekasihku, demikian gumamnya dalam hati. Oleh sebab itu selama beberapa hari Babun menyambangi semak-semak belukar dan bahkan masuk hutan untuk mendapatkan tanaman Hantawali. Setelah terkumpul 3 Kg Hantawali, lalu semua dicincang halus dan direbus dengan seember air hujan hingga mendidih. Ekstrak Hantawali yang telah disaring dengan baik dia masukkan dalam Bumbung (ruas bambu) dan siap dipersembahkan untuk Mauli sang kekasih.Sepekan pasca pemberitahuan mengenai sayembara itu, ketiga pemuda berangkat bersama menjumpai Mauli dirumahnya sambil membawakan masing-masing produk inovasi penangkal gangguan nyamuk. Mauli beserta ayah bundanya menyambut kedatangan mereka itu dengan antusias. Setelah mempersilahkan duduk, ayah Mauli segera membuka pembicaraan.
“Ananda bertiga tentu sudah siap mengikuti sayembara ini !, Silahkan kalian secara bergilir menjelaskan temuan seperti apa yang cukup baik dalam mengatasi gangguan nyamuk” kata ayah Mauli sambil melirik masing-masing bawaan tetamunya dengan penuh rasa ingin tahu.

Baban lebih dahulu mendapat giliran untuk mempresentasikan kelambu hasil inovasinya. Sambil tersenyum hormat, si Baban berkata : “Yang Mulia Ayahanda !, ijinkan saya menyerahkan benda ini kepada adinda Mauli, sebuah Kelambu yang dapat digunakan malam hari pada saat adinda Mauli akan tidur. Adinda bersembunyi saja dalam Kelambu ini supaya nyamuk terhalang untuk mendekati dan adinda Mauli akan terhindar dari gigitan nyamuk. Cara memasangnya cukup mudah, ikatkan tali-temali Kelambu ini disudut kamar agar Kelambu membentang. Masuklah ke dalam melalui bagian pintunya lalu rapatkan bagian bibir Kelambu di bawah kasur”.
“Bagus !… bagus !, giliran peserta kedua : ananda Babin, silahkan tunjukkan kepada kami, kiranya macam apa barang yang akan kau persembahkan buat Mauli ?” kata ayah Mauli sambil menerima persembahan Kelambu dari si Baban.

Babin bergeser tempat duduk agar lebih dekat jaraknya dengan si calon mertua sambil menenteng bakul berisi Babal kering dia pun berkata : “Perkenankan ananda menyajikan sebakul Babal kering ini sebagai pengusir nyamuk. Babal ini saya kumpulkan dari bawah pohon Belasa Kepampang, kemudian saya keringkan dengan cara dijemur dibawah panas matahari. Cara pemakaiannya, siapkan talam dan sebuah pemantik (korek api), lalu bakar pangkal Babal kering ini sampai mengeluarkan asap. Tempatkan talam pengasapan itu disudut kamar tempat tidur menjelang malam supaya nyamuk terusir dan tak mampu mendekati adinda Mauli”, kata si Babin penuh semangat.
“Wah … hebat ya !, sekarang giliran peserta ketiga atau yang terakhir yaitu ananda Babun. Silahkan tunjukkan kepada kami, kiranya macam apa barang yang akan kau persembahkan buat anak gadisku ?” kata ayah Mauli sambil menerima persembahan Babal Belasa Kepampang dari si Babin.

Babun dengan rasa penuh harap agar berhasil menjadi pemenang sayembara segera memberikan penjelasan. “Ayahanda yang saya hormati !, terimalah produk inovasi saya ini yaitu ekstrak Hantawali. Kita semua maklum bahwa cairan Hantawali ini rasanya pahit, dan justru hal itu akan menyebabkan disetiap lubang pori-pori kulit kita terkandung partikel air atau keringat pahit yang tak disukai nyamuk. Oleh sebab itu sudilah kiranya adinda Mauli nanti mengusapkan cairan ini disekujur tubuhnya”, kata si Babun sambil menyerahkan Bumbung berisi cairan Hantawali kepada ayah Mauli.
“Ide yang bagus sekali !, baiklah semua produk inovasi yang kalian sajikan ini saya sampaikan kepada Mauli untuk diuji-cobanya sendiri”, kata si calon mertua sambil memanggil anak gadisnya agar hadir dan duduk bersama di ruang tamu.

Mauli pun keluar dari kamar diiringi ibunya, kini mereka sudah berkumpul semua. Ayah Mauli memberikan penjelasan bahwa Mauli harus mencoba produk inovasi yang disayembarakan ini, setelah itu dia harus memilih satu yang terbaik. Produk yang dinyatakan terbaik oleh Mauli akan diterimanya sebagai persembahan cinta sejati lalu sebagai konsekwensinya adalah Mauli harus bersedia dinikahi oleh si Pencipta Produk Anti Gangguan Nyamuk itu. Mauli setuju dan sepakat dengan aturan tersebut, demikian pula ibunya. Pemenang sayembara akan diumumkan ayah Mauli pekan berikutnya.

Selesai serah terima produk inovasi yang disayembarakan itu, ketiga pemuda pamit pulang. Di depan pintu rumahnya Mauli membagi-bagikan sebakul Lopot yaitu penganan dari bahan ketan campur kelapa parut yang dibungkus dengan daun kelapa kemudian dikukus sampai matang. Lopot itu dibuatnya sendiri dan sengaja dipersiapkan beberapa saat sebelum pertemuan.

Keesokan harinya Mauli mulai mencoba semua produk inovasi anti gangguan nyamuk satu-persatu. Menjelang malam, Mauli dibantu ibunya memasang Kelambu lalu Mauli bersama ibunda tidur dalam kelambu buatan si Baban. Cukup memuaskan, selama tidur malam itu mereka berdua aman dari gangguan nyamuk. Mauli bangun tidur dengan senyum ceria karena berhasil tidur nyenyak semalaman tanpa terusik seekor nyamukpun.
Di hari kedua Mauli mencoba mengatasi nyamuk dengan metode pengasapan. Ayahanda membantu Mauli membakar selusin Babal kering hingga berasap, kemudian mereka taruh di kamar serta ruang tamu. Asap ngebul memenuhi kedua ruang itu membuat nyamuk-nyamuk berlarian keluar rumah. Selama beberapa jam mereka bebas dari gangguan nyamuk namun tak lama kemudian terdengar suara batuk bersahut-sahutan. Rupanya ayah dan ibu Mauli yang sudah cukup tua itu tak tahan dengan bau asap yang begitu menyesakkan dada sehingga penyakit bengek mereka kambuh. Sambil geleng-geleng kepala Mauli segera memadamkan asap dari pembakaran Babal produk si Babin.

Di malam ketiga, Mauli pun mencoba produk anti nyamuk buatan Babun. Cairan itu dia oleskan ke sekujur badan ketika menjelang tidur. Mauli memang tak digigiti nyamuk selama beberapa saat namun jari tangannya menggaruk-garuk wajah serta bagian tubuh lainnya karena alergi. Rupanya cairan hantawali tak cocok dengan kulitnya yang begitu halus dan sensitif. Akibatnya Mauli tak dapat tidur nyenyak, ibunda menyuruh mandi lagi dimalam itu untuk membilas bekas cairan Hantawali dari tubuhnya. Mauli kapok dan tak ingin menggunakan cairan Hantawali itu lagi.

Ayah Mauli akhirnya memberitahukan nama pemenang sayembara itu, dia adalah Baban yang mempersembahkan sebuah Kelambu. Baban sangat bergembira karena dengan kemenangan dalam sayembara itu berarti cintanya direstui Mauli dan seluruh keluarga. Baban mulai merencanakan hari pernikahan dengan Mauli disaat bulan purnama nanti.

Namun lain halnya dengan Babin dan Babun yang gagal dalam sayembara itu, mereka berdua tak ingin menyaksikan pesta perkawinan Baban dan Mauli. Oleh sebab itu mereka berdua sepakat untuk pergi merantau jauh dari dusun Cempaka. Babin merantau ke ilir yaitu ke daerah Kayu Agung mengembangkan usaha Tembikar sedangkan Babun merantau ke ulu yaitu ke daerah Abung mengembangkan Tanaman Damar.

Pasangan suami isteri Baban-Mauli menetap di dusun Cempaka sambil mengembangkan usaha tanaman Duku dan Durian. Namun perkawinan tersebut tak berlangsung lama, Baban meninggal dunia dalam usia perkawinan mereka yang belum mencapai setahun. Berita mengenai kematian Baban baru diketahui Babin dan Babun 3 bulan kemudian, maklum ketika itu sistim informasi belum begitu canggih sehingga penyampaian berita memerlukan waktu relatif lama.

Rasa cinta Babin kepada Mauli rupanya belum padam, oleh sebab itu Babin yang menetap di Kayu Agung ingin pulang kampung untuk mempersunting Mauli yang sudah berstatus janda. Babun pun ternyata memiliki hasrat yang sama seperti Babin yaitu ingin menikahi Mauli sang janda kembang yang konon makin bersinar kecantikannya setelah 3 bulan menjanda. Oleh sebab itu Babun mengutus rombongan yang merupakan teman dan kerabatnya dari Abung untuk meminang Mauli. Namun sesampai di dusun Cempaka rombongan tersebut baru tau bahwa si janda sudah sepekan lalu diperistri oleh Babin.
Rombongan Abung itu murka dan melakukan aksi makar untuk merebut kembali Mauli dan membawanya secara paksa kepada Babun di Abung. Peristiwa itu dikenang masyarakat Buay Tumi sebagai Perang Abung-Cempaka yang menyebabkan Babin terbunuh secara kejam. Babun sungguh menyesalkan peristiwa itu karena yang menjadi korban adalah saudara kembarnya sendiri yaitu Babin yang seminggu lebih cepat memperistri Mauli sang janda kembang. Adapun pimpinan rombongan Abung juga tak mengetahui bahwa antara Babin dan Babun sebetulnya masih bersaudara kembar.

Dengan perjalanan waktu dari masa ke masa nama Buay Tumi makin senyap, namun kenangan atas peristiwa itu disikapi masyarakat Komering masa kini dengan penuh hikmah dan diambil pelajaran berharga bahwa perkawinan antar insan bersifat sakral. Adat budaya yang hingga kini masih berlaku di lingkungan muda-mudi Komering intinya adalah menyerahkan souvenir kepada seorang gadis untuk mengungkapkan kesungguhan hati bahwa kelak si bujang akan meminang si gadis. Souvenir yang diberikan wujutnya macam-macam, bisa saja sebuah Kelambu, kain sarung, bahan pakaian, kelapa, beras ketan, gula, atau sembako dan sejenisnya. Benda-benda yang hendak diberikan bujang kepada gadis ini dinamakan dengan istilah “Baban”. Aktifitas yang dilakukan namanya “Bubaban”. Biasanya para gadis Komering membalas pemberian itu dengan penganan misalnya kue bolu atau jenis penganan lainnya hasil karya si gadis.

Aksi makar atau peperangan yang terjadi dalam memperebutkan mempelai wanita, kini di-ejawantahkan dalam bentuk tarian dengan nama “Tari Tigol”. Konon Tigol mengambil kata dasar “tigolgol” ataupun “tibagol” yaitu suatu perbuatan makar atau penganiyayaan. Namun karena etika moral dalam seni budaya mengutamakan dan menjunjung tinggi norma kebaikan maka nama tarian agak diplesetkan dikit dari tigolgol menjadi tigol saja. Tari Tigol biasanya dilakonkan oleh dua kelompok ahli pencak silat yang masing-masing menghunus parang panjang. Mereka bersilat dalam gaya tarian seakan-akan berperang untuk memperebutkan mempelai wanita.

Budaya Baban maupun Tari Tigol kini menjadi khasanah budaya lokal yang masih berlaku di wilayah Komering khususnya di dusun Cempaka dan perlu disosialisasikan kepada khalayak bukan hanya masyarakat Buay Tumi yang bermukim di Komering namun juga untuk para perantau Buay Tumi di seluruh penjuru tanah air. Biarlah sejarah masa lalu bergulir sedemikian adanya, namun perlu dilakukan sinkronisasi supaya cara pandang masyarakat menjadi pas : “Komering adalah nomenklatur Wilayah” sedangkan “Tumi adalah nomenklatur Suku”. Dalam catatan sejarah yang proporsional bahwa “Suku Tumi” sebenarnya tidak punah sebagaimana yang disinyalir orang selama ini, mereka masih ada hingga kini, mereka adalah “Wong Komring” atau “Jolma Kumoring” yang masih eksis dalam berbagai aspek kehidupan di bumi pertiwi.
Suku Tumi generasi terkini tentu saja sudah jauh lebih maju dalam hal peradaban, pendidikan maupun ketauhidannya. Masyarakat suku Tumi menyukai ilmu pengetahuan dan teknologi, mengenyam pendidikan tinggi bahkan peningkatan ketakwaan melalui ilmu tasauf. [Hadijaya Prabu Galihway]

***Disadur dari sebuah tulisan di portal ikatan alumni Universitas Terbuka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s